Kamis, 12 November 2015

Susahnya Bersaing di Lini Novel



Ngobrol sore dengan seorang editor GPU yang mengurusi bukuku itu enak juga. Berasa so friendly dan diperhatiin. Bahkan untuk urusan kaver pun bisa didiskusikan. Gimana caranya kita bisa nerbitin buku yang kalau orang liat kavernya aja udah kepengen beli. Itu “wow” banget. Kerjaan susah untuk menembus persaingan novel yang ketat yang ngga cuma lokal tapi juga terjemahan. Bayangin aja, saat saya ke toko buku, saya melihat novel yang diterbitin itu sealahim gambreng bener. Siapa aja yang nerbitin udah ngga bisa diapalin saking banyaknya. Udah berasa Bhineka Tunggal Ika. Saya kadang cuma merasa debu yang sekali tiup, hilang.

Kita mikir, gimana ya bisa nerbitin buku yang bisa berhasil memikat pada pandangan pertama? Sebab pada hitungan 3 bulan penjualan ngga lancar, buku bisa ditarik ke gudang. Jadi … saya ngusulin gimana kalau nampilin gambar cowok misterius? Kata editor saya, “Jangan. Menurut survey, selain jenis Harlequin atau novel-novel terjemahan, pembaca tidak begitu tertarik dengan buku lokal bergambar orang. Pembaca ingin punya imajinasi sendiri dengan tokoh-tokoh dalam novel dan gambar sosok manusia akan membatasi imajinasi mereka.” Saya manggut-manggut. Ooohhh gitu. Baru tahu. 

Lalu saya usulin tentang bunga mawar di atas meja mother of pearl Siria. Mawar? So typical! Dan juga pakem novel islami di GPU ada sendiri. Kalau untuk Amore mereka akan "bermain" di warna pastel, bunga, interior (sofa, meja, dll). Ooohhh gitu (lagi). Baru tahu. Seru juga ya.


Setia Bersamamu

“Dinar …. Dinar …!”
Para pedagang sibuk berteriak menjajakan dagangannya. Aneka barang dari baju bekas hingga pernik-pernik elektronik digelar di sepanjang jalan dan di lorong-lorong pertokoan. Riuh rendah suara orang-orang tawar-menawar.
Ramai suasana pasar dalam cuaca yang panas dan kering membuat semua orang berjalan dengan gegas. Hiruk pikuk di hari Sabtu di Kota Tua, atau biasa disebut Balad.
Jalan begitu padat dengan mobil yang antriannya mengular di jalanan, merayap. Beberapa pengendara tampak tak sabaran dengan mobil-mobil yang terpaksa harus memotong jalur saat ia keluar dari tempat parkir di sepanjang jalan. Pun mobil yang tiba-tiba mengubah haluan, memotong jalur di sampingnya. Klakson dibunyikan berkali-kali, bersahut-sahutan. Menambah gerah suasana siang.
Pada umumnya, orang nampak tak hirau. Asyik dengan aktifitas masing-masing. Sebagian mengantri di warung dan gerobak kecil yang menjajakan kopi atau kebab di pinggir jalan. Waktunya makan siang. Tak sabar rasanya menunggu pesanan matang. Harum daging yang dibakar, berseling dengan irisan bawang bombai dan tomat. Sebentar lagi, kebab panas itu akan segera diangkat dan digulung dengan selembar hubs yang sudah dingin.
Di sepanjang jalan yang mengular, orang-orang nampak sibuk mengerumuni pedagang. Toko-toko pun nampak ramai. Para turis biasa menyerbu para penjual souvenir. Mereka akan berburu abaya Arab maupun pasmina, produk lumpur dan garam Dead Sea, pajangan, hingga gantungan kunci. Jika ingin mendapat barang yang orisinil Arab, pastikan jangan sampai tertukar dengan produk impor dari China. Bahkan, souvenir pun banyak buatan China. Sebagian dari mereka nampak memenuhi toko rempah: mencari minyak zaitun, habatussauda, hingga asinan mentimun, cabe, dan zaitun. Tak lupa juga buah-buah kering seperti kurma dan tin.
Di sebuah lorong penjual karpet dan baju, Diyuna berjalan dengan telepon genggam tertempel di telinganya. Wajahnya begitu serius dan sebelah tangannya yang bebas sangatlah ekspresif memperagakan gerakan-gerakan, seolah-olah orang yang berbicara di telepon akan melihatnya. Sesekali ia menoleh ke kanan dan ke kiri, mencari-cari sesuatu sebelum akhirnya ia … terpental mundur!
Telepon genggamnya terjatuh. Tabrakan itu begitu kuat. Seseorang dengan tergesa telah memotong jalurnya tanpa ia sadari.
“Sorry …,”
“Sorry …,”
Hampir bersamaan ucapan itu keluar. Diyuna mendapati sepasang mata cokelat tua tatkala ia menengadahkan pandangannya. Mata itu nampak mewakili perasaan pemiliknya yang merasa bersalah. Tapi juga mewakili … pandangan yang aneh. Lelaki itu seperti sedang menahan nafasnya sesaat sebelum ia bergegas mengambil telepon Diyuna tanpa memedulikan dirinya.
“Sorry,” ulangnya sambil menyerahkan telepon genggam itu pada Diyuna. Senyumnya yang tipis membuat Diyuna tak dapat berkata-kata. Wajah itu …, entah kenapa terlihat seperti seseorang yang … tak asing baginya. Wajah aristokrat yang berkelas. Namun, jauh dari kesan arogan. Senyumnya tak terlalu diobral, namun matanya begitu hangat. Orang Asia. Seratus persen yakin, Diyuna belum pernah bertemu dengannya.
Laki-laki itu tak banyak berkata-kata. Ia bergegas meneruskan langkah ketika Diyuna menerima telepon genggamnya. Ia nampak begitu tergesa-gesa hingga Diyuna tak yakin dalam hitungan ketiga, apalagi sepuluh, laki-laki itu akan berbalik dan menyadari bahwa jepit rambutnya yang kecil masih menempel di ujung kerah jasnya.
Diyuna tersenyum sambil membetulkan sisiran rambutnya.
“Jadi kamu dimana, Mbak?” Diyuna kembali meneruskan teleponnya. Tapi sudah ditutup.

2 komentar:

  1. Wah asiknya bisa ngobrol panjang sama editor. Keren nih kayaknya novelnya..

    BalasHapus

Pengikut

Supporting KEB

Supporting KEB
Kumpulan Emak Blogger

Histats

Histats.com © 2005-2014 Privacy Policy - Terms Of Use - Check/do opt-out - Powered By Histats