Selasa, 26 Januari 2016

Wanita Yang Percaya Pada Dirinya Sendiri


The Athenaeum - April (Charles Sims - )



Hi, All!
Salam damai ^^

Mungkin suatu saat Anda pernah ketemu ibu-ibu jalan bareng anak di jam-jam sibuk, rempong sendiri, dan Anda (adalah orang yang –kebetulan wanita-) berpikir … dia ngga keren sama sekali. Apalagi dia ngga berdandan. Anda berpikir, bukankah lebih baik kalau sebagai wanita dia ikut terlibat dalam program masyarakat dunia untuk mensukseskan negara agar menjadi sejahtera. Secara ekonomi. Lalu hati Anda mulai menyelidik: apakah ia bahagia, apakah ia tidak bosan, apakah ia bisa menyekolahkan anak-anaknya dengan baik, apakah ia bisa jalan di tempat-tempat yang menyenangkan, apakah … apakah?

Hmmm … sejujurnya, mungkin dia memang tidak pernah berpikir bahwa ia keren. Tunggu dulu. Ia juga tidak berpikir bahwa ia “kasihan” :D Biasa saja. Dia tidak pernah menganggap hidup adalah persaingan. Ia fokus pada hidupnya sendiri yang tak goyah oleh bintang-bintang yang tampak berkilauan di sekitarnya. Saat ia melihat bintang di sekelilingnya, ia adalah bintang itu sendiri. Kenapa harus merasa diri adalah meteoroid tak bercahaya?

Suatu hari dulu, seorang laki-laki jatuh cinta padanya. Mengenalinya sebagai belahan hati yang mungkin saja ternyata telah menyisihkan calon dokter wanita, calon pengacara wanita, calon akuntan publik, calon artis nasional, calon eksekutif perusahaan multinasional dll. Dan ia masih saja merasa hidup dalam dunianya sendiri. Dunianya bersama laki-laki yang telah memilihnya.

Suatu saat ia terpaksa harus bertarung menundukkan egonya untuk “menjadi sesuatu” saat eksistensi rumah tangganya menuntutnya untuk “menjadi dirinya sendiri”. Ia biasa saja.

Sekarang?

Mungkin ia keasyikan menjadi seorang istri dan ibu yang tak sempat mengurusi minat sendiri ^^ Parenting, pengembangan diri, hal-hal yang mendukung urusan domestik, bla bla bla. Membuat ia menjadi superhero di rumah dan mungkin itik kecil di luar sana yang berjalan sambil tolah-toleh berusaha meniru suara bebek-bebek yang bergaya. Bebek-bebek yang mungkin saling membaca buku dan teori, tapi merasa lebih orisinil di jamannya.

Sedihkah ia?

Nggak. Itik kecil itu digembalakan oleh seorang gembala yang mau belajar bagaimana mengurus itik yang baik dan benar. Bagaimana agar bisa memiliki jalannya sendiri tanpa melihat bebek besar. Walaupun kadang kasar dan menjengkelkan memaksa untuk berjalan, tapi tanggungjawab dan rasa cintanya meneduhkan hati. Ehem.

“Adek ngga boleh gini. Ngga boleh gitu.”
“What? Kerja? Ngga boleh. Adek akan capek, gaji adek bla bla bla.”
“Adek ngga cocok dunia itu. Sudahlah, rumah adalah yang utama. Adek sudah berarti buat Mas.”

Ia bahagia menjadi “bodoh” yang tidak harus tampak “pintar” di luar sana. Istri “bodoh” yang sering dikerjain dan digombalin suami serta anak-anaknya.

“Adek, Mas lagi lihatin foto wanita cantik. Boleh Mas minta ijin menikah lagi?” Bikin jantungan. Lalu fotonya dikirim lewat WA, ternyata fotonya waktu masih gadis.
“Hallo istri Mas yang cantik dan shalihat luar dalam.” Aw! Hatinya meleleh.
“Bunda cantik kayak princess.” Dan mukanya basah oleh ciuman yang beruntun.
“Bunda cantik dan baik. Aku sukaaa sekali. Bau Bunda haruuuuum.” Pelukan anaknya kencang sekali.
“Harum? Bunda  bau tau. Orang Bunda belum mandi.” Ups! Oke, salah satu anaknya sudah besar hahaha.

Lalu ia melihat diri sendiri yang berbaju rumah dengan keringat meleleh. Tangan memegang serbet dapur yang buruk rupa. Aduh, ia seringkali memang merasa ngga terlihat keren. Tapi … ia tidak merasa terlihat “kasihan” :D Ia mulai tersenyum dan sabar menata toples-toples persediaan tehnya lalu menyeduh secangkir teh hitam Selawi yang harum. Duduk melepas lelah dengan senyum tercantik yang selalu dirindu suami.

Sesekali ia terlihat membersihkan tas dan sepatu cukup mahal dari hasil suaminya menabung. Ia memakainya di acara-acara istimewa, itu juga mungkin … karena suami menyuruhnya. Ia tak merasa keberatan suaminya menghujaninya dengan hadiah-hadiah yang tidak bisa dibelinya sendiri. Ia melihat senyum suaminya mengembang tak sabaran saat memberikannya. Ia melihat suaminya bahagia telah bisa menjalankan perannya. Oh, apakah ia membagi peran? Mungkin saja. Itu kan rumah tangganya yang mungkin berbeda dengan Anda.

Lalu sesekali ia bertemu dengan bintang-bintang yang lain. Para wanita yang hebat di bidangnya. Wanita-wanita yang bisa jadi tulus bisa jadi tidak, ia tidak ambil peduli. Ia duduk mendengarkan ilmu dari sesamanya. Ia tak merasa rendah diri karena ia menyadari bahwa ia memang tidak menguasai ilmu itu. Ia belajar pada Anda tanpa merendahkan Anda dan justru mungkin … menatap Anda penuh rasa kagum. Ia tidak merasa rendah diri karena harus mengagumi Anda. Kadang, Anda sendirilah yang membuatnya bersentuhan dengan rasa gentar, takut, dan merasa rendah diri. Cara Anda memandangnya, cara Anda menunjukknya ^^

Ya, dia adalah seorang wanita yang percaya pada dirinya sendiri. Fokus pada apa yang Tuhan berikan dalam  hidupnya: up and down. Ia bahagia dengan hidupnya. Hingga perlahan menua. Anda …, masihkah ingin menyangsikannya?

Love you all ^^




8 komentar:

  1. Luar biasa wanita itu...pengen rasanya punya rasa percaya diri sekuat itu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, nih, Buuun. Saya juga lagi belajar untuk lebih percaya diri.

      Hapus
  2. Uni nahan nangis baca ini santi. banyak banget org2 sekitar uni yg tdk percaya diri dfn kondisi sekedar ibu rmh tangganya. Hingga jd rendah diri.

    Uni share yaaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, Uni. Masih banyak yang tidak percaya diri dan juga masih banyak yang merendahkan. Thanks, Uni.

      Hapus
  3. PD walau di bully?
    Begitukah mba?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kita dibully bukankah biasanya karena kita lemah dan tidak percaya diri?

      Hapus

Pengikut

Supporting KEB

Supporting KEB
Kumpulan Emak Blogger

Histats

Histats.com © 2005-2014 Privacy Policy - Terms Of Use - Check/do opt-out - Powered By Histats