Rabu, 26 Oktober 2016

Bagaimana Cara Meraih Kepuasan Hidup?



by James W Johnson @fineartamerica.com

Manusia dan usahanya untuk hidup berbahagia adalah sebuah isu yang tak pernah lekang ditelan jaman. Seringkali manusia merasa tidak menikmati hidupnya karena kehilangan makna hidup yang meninggalkannya dalam kehampaan.

Ada banyak teori kehidupan yang dibaca manusia mengenai bagaimana cara orang bisa mendapatkan hidup yang berkualitas, berbahagia, puas, dan lain sebagainya. Namun terkadang segala macam teori itu kalah oleh kekuatan pikiran manusia itu sendiri. Kekuatan untuk menemukan makna hidup menjadi bias oleh banyaknya kekhawatiran dan ketakutan untuk menjadi tidak nyaman hidup di dalam dunia yang pragmatis. Pikiran seorang manusia –positif atau negatif- itulah yang justru menentukan apakah hidupnya memuaskan atau tidak.

Saat membaca sebuah artikel dari Psychology Today hari ini, saya membaca beberapa ahli yang menanggalkan banyak teori dalam mencapai kepuasan dan kemerdekaan hidup. Mereka menemukan kepuasan hidup dari pengalaman diri sendiri atau pengalamannya dengan orang lain dalam dunia profesional. Beberapa di antaranya saya olah dan sajikan untuk menjadi sebuah perenungan.

Waktu mendatangkan kebijaksanaan

Apa bedanya menjadi orang tua dan orang muda? Salah satunya, cara mereka menyesali hidup. Manusia bisa belajar dari pengalaman orang tua untuk mencapai kehidupan yang lebih baik. Mudahkah? Tidak. Saya sendiri adalah orang dengan usia dewasa muda dan saya masih bertarung dengan banyak nilai, mencurigai pandangan orang tua, terlalu percaya pada diri sendiri, dan lain sebagainya.

Orang muda menyesalkan hal-hal yang seharusnya bisa dikerjakan dalam jangka pendek, sebaliknya, orang tua melihat kehidupan di belakangnya yang begitu panjang yang sudah mereka lalui. Orang muda mungkin menyesal, misalnya, mengapa ia tidak memilih tawaran kerja dari si A yang bergaji tinggi dan memilih bekerja di B yang bergaji rendah tapi dekat dengan rumah. Atau, mengapa ia tidak belajar unntuk bisa lulus dalam tes tertentu. Mereka cenderung untuk menimbang resiko secara materi dari hal-hal yang bersifat tak kasat mata dan tak terkalkulasi dan menghindari potensi yang merugikan karena mereka hanya memikirkan bahwa mereka tidak menginginkan hasil yang buruk.

Sebaliknya, orang tua cenderung menyesali mengapa mereka tidak berani mengambil resiko tertentu dan bahkan tidak pernah mau belajar dengan segala tantangan saat mereka memiliki kesempatan untuk mengerti kehidupan dengan lebih baik.

Passion

Seorang ilmuwan yang memilki dorongan untuk berhasil melakukan sebuah riset bisa mendatangkan kepuasan yang mendalam. Orang lain mungkin mengharapkan waktu libur dan meninggalkan pekerjaan mereka namun seseorang yang dengan dorongan yang kuat untuk menemukan sesuatu dalam risetnya bahkan tidak bisa memejamkan mata untuk segera kembali berkutat dengan penelitiannya. Setiap ada kesempatan, ia bekerja sepanjang hari dan malam hanya karena ingin mengetahui hasilnya.

Kenapa susah-susah melakukannya? Ia mengalami kekosongan sebuah pengetahuan –penasaran- dan ia ingin mengisinya. Jika belum terisi, jiwanya tidak mudah menjadi tenang. Ia melakukannya bukan untuk kekayaan namun untuk sebuah kepuasan yang mendalam. Namun ada kalanya mereka memahami bahwa sebuah dorongan tidaklah harus menjadi sebuah obsesi yang justru akan membahayakan kehidupannya dengan pasangan, keluarga, atau teman-temannya, misalnya.

Jadi, Anda tentu tidak heran lagi mengapa kadang menemui orang seperti musisi, pelukis, pematung, penulis, dan lain sebagainya yang mungkin dipandang aneh oleh sebagian besar namun sebenarnya menghasilkan kepuasan yang mungkin saja sulit diraih oleh orang lain? 


| ARTIKEL LAIN | Apakah Hidup Saya Menarik?


Spontanitas

Manusia kadang terperangkap oleh keteraturan dan kebiasaan yang bisa menghadirkan rasa takut atau cemas jika keluar dari kebiasaan atau keteraturan itu. Hal ni dikarenakan banyaknya pertimbangan dan segala macam perhitungan bahkan sekedar rasa tidak nyaman yang membuat seseorang bersikap lebih spontan.

Spontanitas adalah hal yang mampu membuat manusia menjadi lebih “hidup” karena keberanian seperti ini kadang bahkan tidak pernah terpikirkan, apalagi dipilih. Manusia cenderung untuk hidup dalam sebuah kebiasaan yang mudah diprediksi sehingga kehidupan seperti itu seringkali mengurangi kreatifitas yang bisa membawa pada hidup yang berbahagia. Ketidakpastian –sesuatu yang berada di luar kehidupan yang teratur dan mapan- seringkali membuat hidup lebih menantang dan memicu perilaku spontan.

Jadi, masihkah heran kenapa kadang orang kaya raya yang terjebak dengan rutinitas bisnis, artis dengan rangkaian jadwal kerja, dll. tiba-tiba menghilang dan melakukan perjalanan ke Afrika untuk bergaul dengan macan dan anak-anak lokal yang menggemaskan? Atau, para traveler yang menikmati hidup dengan bepergian seadanya? Atau, ibu-ibu sosialita yang tiba-tiba memutuskan untuk mengajak suami pindah ke desa saja? Dan, lain sebagainya.

Spontanitas berbeda dengan sikap random atau juga sikap impulsif. Contoh sederhananya, seseorang yang biasa meminum kopi dan suatu saat berada di sebuah kedai berkumpul bersama teman-temannya tiba-tiba saja memutuskan untuk memesan jus lemon karena temannya banyak yanag memesannya entah karena kebiasaan mereka entah karena minuman lemon sedang naik daun. Orang yang impulsif akan segera menyesalinya saat minumannya datang dan mungkin saja kembali memesan kopi atau meneruskan meminum jus lemonnya tapi dengan mengeluh.

Sebaliknya, spontanitas membuat seseorang berani untuk mencoba menikmati segelas jus lemon bahkan hingga tetes terakhir. Dia memberi kesempatan pada segelas jus lemon untuk mengalami sensasi yang berbeda yang bisa saja mendatangkan banyak manfaat atau sekedar perasaan senang. Saat memutuskan begitu saja untuk berani memesan segelas jus lemon, dia tidak khawatir jika yang dilakukannya itu salah atau benar. Dia hanya melakukan saja apa yang ingin dilakukannya dan terbuka terhadap ketidakpastian dan kemungkinan baru.

Manusia, bagaimanapun adalah makhluk hidup yang sesungguhnya butuh untuk terus bergerak dan belajar dengan pengalaman baru dan menikmatinya sebanyak mungkin. Hanya saja terkadang kehidupan sudah demikian kompleks dan seseorang menjadi sangat terikat dengan nilai dan pandangan manusia lainnya. Hal ini sangat wajar namun jangan sampai mematikan spontanitas. Bagaimanapun juga, spontanitas bukan perilaku impulsif karena seseorang juga harus peka potensi bahaya terutama jika dlakukan dalam jangka panjang.

| ARTIKEL LAIN | Berbahagia Dengan Facebook


Hal yang tak terduga

Pernah melihat seorang istri kehilangan suami? Atau, seorang ibu kehilangan anak? Atau, seorang yang sehat terkena penyakit mematikan? Apakah mereka bisa menduga apa yang akan terjadi dalam hidupnya?

Hidup ini sesungguhnya tak pernah pasti. Ada banyak hal yang tak terduga. Apa reaksi umum saat hal-hal tak terduga terjadi? Kecewa. Marah. Atau, menyalahkan diri terus-menerus? Atau, menyalahkan orang lain, lingkungan, alam? Banyak hal yang tiba-tiba menjadi tidak terkontrol dan mendatangkan perilaku negatif.

Seseorang yang mengalami hal-hal tidak terduga selalu membutuhkan waktu untuk memahami “pertempuran” batin yang mereka hadapi. Bahkan, tak jarang yang terjadi bukannya mudah memahami dan menerima namun malah menambah penderitaan lahir dan batin. Apa yang bisa dilakukan?

Manusia, entah bagaimana, kadang menerima anugerah kesadaran untuk mampu bersikap realistis melihat kondisi manusia lainnya. Saya menyebutnya sebagai hidayah. Manusia memang hidup dalam kehidupan yang tidak terduga dan juga keadaan di mana kadang tidak selalu bisa mengontrol atas banyak hal yang terjadi.

Yang dilakukan oleh manusia biasanya justru melawan situasi baru tersebut yang bisa membuat hidup demikian terasa kosong dan melelahkan alih-alih mengembangkan energi positif mengenai bagaimana seseorang harus bisa menerima keadaan dan mampu melepaskannya dan beranjak untuk mengembangkan hidup yang penuh kasih sayang dan penghargaan pada diri sendiri daripada kekecewaan dan kemarahan.

Demikianlah beberapa hal yang bisa direnungkan untuk mencapai kepuasan hidup. Penting juga untuk diketahui bahwa di atas semua kegundahan hati akan makna hidup, manusia harus menemukan kesimbangan yang mampu mengisi kekosongan batin agar hidup tidak menjadi timpang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pengikut

Supporting KEB

Supporting KEB
Kumpulan Emak Blogger

Histats

Histats.com © 2005-2014 Privacy Policy - Terms Of Use - Check/do opt-out - Powered By Histats