Jumat, 21 Oktober 2016

Penting vs Nggak Penting


@123rf.com


Saya merenung. Setelah berpayah-payah membuat sebuah 'pengertian' terhadap diri sendiri. Pengertian? Ya... bahwa kalangan sosialita partikel-partikel positif yang suka kumpul-kumpul di zona bernama HATI, hati saya, memutuskan akan menjaga keharmonisan keluarga dari dalam. Pasalnya, opsi itu dianggap paling populer dibandingkan dengan pilihan sosialita yang suka ngerumpi di akal saya dan paling senang mengeluarkan pernyataan yang 'panas'. Provokatornya tentu saja NURANI. Tahulah..., nurani selalu bersifat intuitif. Tidak dapat direduksi menjadi sebuah bisikan sederhana yang universal. Sebab dari sono-nya ia memang sangat personal.

So? So, saya jadi ibu rumah tangga, dong! Tanpa embel-embel murni nggak murni. Wong kenyataannya saya murni di rumah saja. Ngurusi tetek-bengek-nya rumah tangga yang kata sebagian kalangan dianggap nggak "berkelas". Yah, ibu rumah tangga.... Kerjaan yang bisa ditanggulangi dengan menggaji orang dengan bayaran empat ratus ribu rupiah sampai satu juta lebih sekian. Termasuk dalam hal pengurusan anak.

Eit! Siapa bilang? Gara-gara pendapat yang begini ini saya sempat dihantui oleh kesadaran akan ketiadaan (nothingness).

Nothingness? Kok bisa? Bisa, dong.... Pernah merasa stress dengan kerjaan yang "itu-itu" saja? Pernah merasa begitu minder melihat teman-teman kita melenggang dengan kariernya masing-masing bak seorang peragawati yang jalannya begitu angkuh di atas catwalk? Pernah merasa omongan kita tidak didengar hanya karena orang menganggap kita tahunya hanya anak, dapur, anak lagi, dan paling-paling cuci gosok! Arrrgghhh....

Gara-gara sederet anggapan itu, yang barangkali sebagiannya hanyalah prasangka otak capek saya semata, saya menganggap menjadi wanita kantoran itu 3P: penting, penting, penting! Lalu ketika saya capek-capek hunting kerjaan dan menerima beberapa tawaran kerja lewat jalur internal, suami saya malah menjawab dengan 3N: nggak, nggak, nggak.

"Coba Adek bayangkan, berapa gaji seorang pekerja pemula, yang baru merintis karier? Lalu uangnya cukup untuk apa? Buat makan siang, beli baju kerja dan segala aksesorisnya (cewek, gitu, lho!). Belum lagi acara hang out dan lain-lain.... Habis deh.

Itu baru gaji, ya.... Waktu kerja? Dari habis Subuh sudah harus bangun, nyiapin diri, berangkat pagi, pulang malam. Tahu sendiri Jakarta. Macet di mana-mana. Apa nggak stres nanti Adek?

Di kantor ada masalah, kejar target atau deadline. Bawaan jadi suntuk. Bisakah tetap ramah pada suami dan anak?"

Saya diam. Nurani saya yang paaaling dalam membenarkannya.

"Mas kasihan sama Adek. Nggak mudah, Dek, kerja di luar itu.... Kenapa memilih pendapatan yang nggak akan banyak memberi arti buat keluarga kita?"

"Tapi ini soal pengakuan, Mas."

"Nggak harus dengan bekerja di luar dan meninggalkan anak-anak dari pagi hingga malam, kan? Lagipula, pengakuan apa yang mau Adek raih? Apa nggak cukup dibilang sebagai ibu dan istri yang shalihat? Mas tahu para istri akan mengalami banyak kemunduran dengan hanya tinggal di rumah serta menurusi hal-hal yang sama setiap harinya. Adek bisa meng-update pengetahuan dengan membaca, kan? Masalah keuangan, Insya Allah ke depan ada harapan Mas akan mampu memberi lebih dari yang sekarang kita dapatkan. Rejeki itu sudah diatur, Dek. Jangan khawatir."

"Intinya?"

"Intinya, Mas nggak melarang Adek bekerja, tapi Adek harus memiliki prioritas dalam hidup. Saat ini Adek punya anak, lho...."

Lama, saya memutuskan untuk menyudahi dialog kami itu dengan 3Y: ya, ya, ya. Sudahlah.... Kenyataannya, suami dan anak-anak lebih merasa saya 'ada' ketika saya sibuk mengurus mereka.

Berkaca dari beberapa kenalan yang suami-istri bekerja di luar dari pagi hingga sore, menggaji orang dengan beberapa rupiah tidak memuaskan hati saya karena secara langsung merekalah yang 'menangani' tumbuh-kembang anak-anak tiap hari. Lantas timbul pertanyaan, apa mungkin gaji untuk mereka kurang ya sehingga tak sepadan dengan profesionalisme para pengasuh anak? Artinya, seorang pengasuh anak yang profesional mana mau digaji rendah!

Gaji suami saya sendiri tidaklah besar. Ia termasuk pegawai yang penghasilannya dapat diukur secara umum. Namun satu yang saya tahu, andai memiliki uang yang sangat besar, rasanya saya tetap saja tak mampu memercayakan pengurusan anak-anak saya sepenuhnya kepada para pengasuh itu. Saya yang menginginkan, mengandung, dan melahirkan anak-anak itu, rasanya tidak afdol bila saya tidak bersentuhan langsung dengan mereka. Dalam hal ini, saya memiliki pertimbangan sendiri.

Faktanya, kerja di luar atau tidak itu hanya soal pilihan. Siapa yang tidak mau mengaktualisasikan diri sebagai wanita? Tak ada. Namun bentuk aktualisasi diri itu memang beragam, seperti apa kata suami saya, dan memang masing-masing orang memiliki prioritas dalam hidupnya.

Jadi... setiap hari saya mengurusi suami, anak, dan kerjaan rumah yang segambreng! Bersyukur, saya memiliki suami yang mau hidup dalam suka dan duka. Tidak hanya soal bersenang-senang, suami juga mau bersusah payah mencuci piring atau mencuci baju. Dalam hal makan pun suami tidak pernah cerewet tapi... lebih disukai jika sayalah yang memasak!

Urusan capek tidak hanya sampai di situ. Anda pasti dapat membayangkan kondisi seorang Ibu dengan batita yang aktifnya minta ampun? Rasanya pekerjaan yang satu belum selesai, sudah nambah pekerjaan yang lainnya. Membersihkan makanan atau minuman yang berceceran, melaksanakan toilet training, pup yang suka kecolongan, dan lain-lainnya. Saya melipat pakaian, anak saya mengurainya. Saya memasak, anak saya membuang bawang kemana-mana, menumpahkan garam atau menyebar bubuk merica....

Oh, tolong, saya butuh orang yang bisa meringankan pekerjaan saya! Oke, suami saya menawarkan teman. Poligami, gitu? Ih, bukan. Pembantu rumah tangga, maksudnya. Jadi saya tetap mengawasi tumbuh kembang anak saya tapi juga tidak stres.

Selesai persoalan? Tidak. Saya tetap saja merasa ada yang terlewat. Bayi saya lucu, iya. Anak-anak saya tumbuh sehat, iya. Pekerjaan rumah saya tertangani dengan baik, iya. Rumah saya harmonis, iya. Tapi saya merasakan kekosongan dalam diri saya.

Menulislah....

Tiba-tiba ada sebuah bisikan dari hati saya yang paling tenang. Kamu pernah menulis, kamu pernah bercita-cita untuk menjadi seorang penulis. Setidaknya, jika kamu menulis, pikiran kamu tak akan mati.

Jadilah saya di rumah: mengurus anak dan menulis. Tapi tetap, prioritas saya adalah anak. Beberapa bulan yang lalu anak saya juga bertambah satu. Jadi sekarang ada dua batita yang harus saya urusi. Sulung yang berumur tiga tahun dan adiknya yang berumur lima bulan.

Demi anak-anak yang katanya putra bangsa tanah air beta ini, terkadang saya sering harus menghabiskan waktu secara ekstrem kanan ekstrem kiri. Kadang di kala hari terang benderang si Mbak yang "terusik" dengan kehadiran adik baru selalu minta perhatian ekstra sementara di hari yang gelap si adik meminta saya begadang. Untung bukan begadang tiada artinya yang sudah dilarang bang haji Roma Irama. Jadilah saya kurang tidur karena melek terus.

Bentuk ekstrem yang lain, terkadang si Mbak minta ditemenin tidur dengan berbagai upacaranya, seperti membaca buku cerita dan menggosok punggung sambil bicara dari ujung utara ke selatan, berjam-jam. Eh, giliran si Mbak sudah tidur, si Adek bangun, minta nenen. Lama. Jadilah saya kebablasan tidur terus-terusan. Kacaulah pola hidup saya akhirnya. Barangkali bagi wanita yang telah mapan dalam kariernya, hal-hal seperti ini bisa menimbulkan stres luar biasa.

Ayolah, otak saya menyemangati, semua wanita memiliki anak. Satu, dua, tiga, bahkan mungkin sepuluh, atau lebih lagi (OMG, saluuut). Jadi buka mata, buka pikiran, ini bukan jenis penderitaan yang tidak ada ujung pangkalnya. Ini soal menanam dan memanen kemudian. Ini soal investasi dan menikmati kemudian. Setiap anak yang dititipkan-Nya pada kita adalah sebuah kertas putih yang akan kita poleskan warna-warni dasarnya sebelum mereka menjadi berwarna oleh lingkungannya.

Saya kadang bersyukur, saya tak harus kerja di esok hari ketika saya merasa begitu lelah. Saya bebas mengganti waktu tidur saya, kapan pun saya mau. Saya bisa bekerja dengan menulis tanpa melewatkan tumbuh kembang anak saya.

Saya selalu mencoba berdialog dengan hati yang kadang mengeras sebab aktivitas monoton yang seolah tidak pernah selesai. Terlebih, tidak pernah kelihatan hasilnya! Hati saya biasanya lumer: ya ampuuun..., anak-anak ini sangatlah lucu! Senyumnya lucu. Cemberutnya lucu. Tertawanya lucu. Tangisnya lucu. Cara berpikirnya pun lucu!

"Ayo, Nak, dipotong dulu kuku jari tangannya ya..."

"Nggak."

"Ayo, dong..."

"Nggak!" Suaranya meninggi.

"Ntar ada kumannya, lho,"

Dia memperhatikan kuku-kuku jari yang saya tunjuk.

"Lihat! Kumannya jalan-jalan di kuku jari Nana! Hiiyy..."

"Nana ikut!"

"Ikut? Ikut ke mana?"

"Ikut jalan-jalan..."

"Yang jalan-jalan tuh kumannya!"

"Nana ikut!" Dia pun berlari mengambil kerudung kecilnya...

Lucu, menggemaskan! Hilang sudah segala rasa lelah.

Ini pilihan saya. Pilihan itu tidak harus benar dengan sendirinya, namun saya melakukannya tanpa paksaan siapa pun. Saya memilih untuk menjadi istri dan bunda yang selalu ada untuk keluarga. Saya memilih untuk lebih lama mendekap dan membelai Nana dan Haedar, putra-putri saya, saat mereka tertidur dan terjaga. Saya memilih dunia anak-anak menjadi dunia saya juga.... Maka saat saya bercerita tentang Lovely Nana and Haedar pada Anda sekarang, kelak mereka sendiri yang akan membaca dan membuat cerita tentang saya.


*ditulis saat saya baru saja melahirkan anak kedua
*pernah dibukukan dalam antologi Jumpalitan Menjadi Ibu
*sekarang saya sudah memiliki tiga anak dan masih setia untuk "di rumah saja"


| ARTIKEL LAIN
Menjadi Istri yang Memesona
Parenting: Hentikan Label Picky Eater
Parenting: Mental dan Spiritualitas Seorang Ibu

5 komentar:

  1. jadi kemarin di kkp aku jalan2 itu bersama para buibu yg anaknya lebih dari satu ya ? hebat

    waktu baru nikah, aku sempat labil dgn keputusanku mau jadi IRT setelah nikah ... namanya masih ngontrak,di sini buibu IRT-nya tiap pagi pada nongkrong sampe adzan dzuhur dan rame ... bukan gueee banget karena aku cuma sanggup nongkrong sejam 2 jam aja ... akhirnya aku apply sana-sini sebagai PA (karena gajinya lebih dari cukup ya) + tes selalu lolos tapi mentoknya di urusan jilbab (masih banyak perusahaan yg melarang personal assistant pake jilbab) ... suamiku bilang "itu tandanya kmu disuruh berkarya di rumah aja" ... setelah bukuku terbit + tulisanku nongol di majalah, bismillah fokus ... akhirnya aku 'ngantor' dirumah, ngerjain transkripan wawancara/sidang + teteup nulis2 ... dan 2 tahun terakhir aku udah gak tertarik apply2 lagi, berfokus + bersyukur sama skill yg dipunya

    BalasHapus
  2. Salut akan pilihan Mbak deh, semoga sukses terus ya, Mbak. Menjadi ibu yang baik untuk anak-anak, dan juga istri yang selalu ada untuk setia, pokoknya bahagia deh. Dan, keep writing :)

    BalasHapus
  3. Yuk saling memberi semangatšŸ˜Š semoga semangat ini selalu terjaga dalam menjaga dan membimbing para calon penerus bangsašŸ˜€

    BalasHapus
  4. Pelajaran juga untuk aku Mba artikel yang Ini. Aku baru punya anak satu , memutuskan resign .. di rumah Dengan kegiatan monoton..
    Sama seperti mba, akhirnya Aku Coba bikin blog untuk ngusir jenuh..ngejalanin Joni yang Alhamdulillah akhirnya jadi income, dan Alhamdulillah, aku ngerasa jauh lebih bahagia, walaupun pekerja an sebelumnya mungkin terlihat lebih keren, tapi aku jauh lebih bahagia begini..

    Aku coba menyemangati diri aku, dan Bilang ke diri sendiri kalau aku Harus bahagia, karena bahagia itu pilihan..

    Makasi sharingnya ya mba.. :)

    www.hai-ariani.com

    BalasHapus

Pengikut

Supporting KEB

Supporting KEB
Kumpulan Emak Blogger

Histats

Histats.com © 2005-2014 Privacy Policy - Terms Of Use - Check/do opt-out - Powered By Histats