Jumat, 02 Desember 2016

Opini dan Reportase Ibu Rumah Tangga Tentang Jakarta Memutih (2-12)


aksi super damai 212
sumber foto: tribunnews.com


Saya sebenarnya termasuk yang teriritasi dengan status dan komen di Newsfeed Facebook  selama fokus teman-teman di friendlist saya adalah 4 November lalu. -Maaf, sepertinya prolog menuju reportase 2-12 agak panjang.- Banyak emosi yang harus tertangkap: marah, sedih, kecewa, takut, cemas, khawatir, dll. Tapi saya harus tahan, sabar, dan mencoba mencerna segala emosi yang keluar dalam berbagai bentuknya: kata-kata kasar, sampah, santun, hasut, optimisme, pesimisme. 

Kenapa saya harus merasa tertekan saat saya merasa baik-baik saja dengan diri saya dan hidup saya? Saya tidak ada masalah dengan mereka semua. Mungkin akan lain ceritanya jika dalam diri saya sendiri memang pada dasarnya penuh dengan kecemasan ... atau kebencian?

Ini jadi seolah bukan soal aksi 411 semata, namun kepribadian yang membahasnya baik yang pro maupun kontra. Sulit menarik obyektifitas jika berhadapan dengan kepentingan subyektif. Apa saja kepentingan subyektif itu? Subyektifitas agama, subyektifitas politik, bahkan hingga subyektifitas “besok saya makan apa”, “besok saya kerja apa”, “besok aman ngga”, dll. Jujur saja, luapan emosi baik yang pro maupun kontra kadang tertangkap kasar sekali. Seolah mereka menghilangkan nalar/logika.

Saya cukup mengkhawatirkan seseorang yang merasa selalu tidak aman dan memiliki kesulitan menerima diri, terutama yang tidak memiliki kemerdekaan pikiran. Alih-alih penasaran dengan apa yang sesungguhnya terjadi, mereka berada dalam sudut pandangnya sendiri. Bukannya be curious, connect with the people, dan bahkan be active, mereka riuh oleh pikirannya sendiri. Menyeberang jembatan, mungkin adalah hal yang tidak mudah jika takut pada sungai yang membentang di bawahnya. Pihak pro dan kontra akhirnya “perang” kata yang kadang alasannya nggak jelas –emosional-. Ini menjadi sangat tidak efektif.

Dari sudut penganut suatu agama yang kitab sucinya dihina, keyakinannya diusik dan ingin penegakan hukum, saya pribadi melihat ada pihak yang memang sibuk menilai dari sudut kenyamanan dan kepentingan pribadi. Padahal, orang yang menuntut hukum atas penghinaan ini bukanlah orang yang pertama memulai. Mereka berupaya bergerak sesuai jalur hukum yang berlaku. Namun, titik itu tak nampak jelas karena subyektifitas, terutama kaitannya dengan pandangan politik dan kekhawatiran peristiwa traumatis suku tertentu di masa lalu. Saya jadi recall memori, memangnya dulu akar permasalahannya sama? Terus terang saya tidak pernah meletakkan aksi itu dalam kerangka politik. Saya pribadi memiliki pandangan politik, namun itu persoalan lain.

Sangat disayangkan jika akibat subyektfitas akhirnya orang-orang merasa hanya bisa menerima kabar hanya dari frekuensi yang sama. Mungkin mereka merasa benar jika ada laporan wartawan atau citizen yang meliput aksi hanya pada persoalan politik, soal provokator yang hanya menghasilkan riak, sebagian kecil yang berkata kasar, sisa sampah dll. Lewat deh soal pasukan Semut Ibrahim, Darut Tauhid, FPI, dll. yang khusus bergerak membersihkan sampah, menjaga taman, maupun menghalau provokator yang selalunya pengen merangsek kacau. Lewat peristiwa pasukan FPI yang melindungi polisi dari serangan provokator. Lewat orang-orang santun yang hanya berdzikir dan bergerak rapi. Lewat bahwa pernikahan di Katedral pun berlangsung dengan aman. Saya tahu berita ini dari laporan pandangan mata teman, berita, dan foto-foto di medsos

Saya sering membaca argumen pembela terdemo: satu kesalahan apakah harus menenggelamkan kebaikan yang lain? Ini bagaimana logikanya? Mereka mematahkannya sendiri: apakah para peserta aksi adalah orang yang tidak memiliki kebaikan? Apakah ini soal keburukan dan kebaikan? Manusia mana yang tidak memiliki dua titik itu? Kalau hanya soal keburukan, apakah peserta aksi ini dengan senang hati selalu bergerak setiap ada kebijakan politik terdemo yang dianggap keliru? Lihatlah mereka bergerak karena apa? Kadang saya merasa agak capek juga mengikuti alur titik-titik asumsi yang kontra aksi ini.

Akhirnya, saat ada aksi damai 2 Desember, saya pun ingin sekali bergabung dan melihat sendiri kesungguhan umat Islam dan realita lapangan dari sekedar kata jurnalis atau kata citizen. Kalau soal dukungan, tak harus hadir fisik, sejak 411 saya sudah memberikannya. Rasanya, jika bisa menghadirinya membuat saya secara nyata menemukan makna daripada sekedar rasa. Lagipula, kalau hanya di rumah dan memantau dari berita atau medsos, saya merasa terlalu banyak opini daripada realitanya. Apalagi jika disajikan dengan bahasa dan emosi yang berantakan. Bukannya pikiran menjadi jernih, yang ada hanya kenikmatan berdansa dalam imajinasi.

Ahai, jangan lupakan Kafilah Ciamis yang memang menggetarkan itu. Santri-santri sederhana yang mungkin tak serumit seorang penggembala yang rela melakukan perjalanan keliling dunia untuk meraih Personal Legend ala The Alchemist. Mungkin mereka berjalan dari Ciamis ke Jakarta untuk memenuhi makna hidup mereka yang berhubungan dengan Tuhannya. Dan bisa jadi mereka juga berharap orang lain juga menemukan makna setelah serangkaian hal yang tidak mengenakkan terjadi jelang aksi damai 212. Tapi saya sepakat dengan The Alchemist: jika kita menginginkan sesuatu, dunia ini akan berkonspirasi untuk membantu kita mencapainya. Sebuah spiritualisme yang asyik dan menantang. Dan saya juga yakin, ini bukan akhir perjalanan Kafilah Ciamis. Wah, rasanya bakal senang jika saya bisa ngobrol sama mereka. Mungkin bisa membagi energi spiritual: kenapa mereka mau melakukannya?

Selain status atau komentar dari sebagian kalangan yang mencoba mem-BOLD kekhawatiran mereka –yang justru merekalah yang mengaitkan aksi damai menuntut keadilan bagi umat tertentu dengan SARA, karena saya bingung jika orang yang menuntut penegakan hukum dikatakan sebagai SARA-, kadang di kalangan Islam sendiri saya seperti mendapat pertunjukan saat melihat beranda Facebook (medsos yang sering saya akses). Ada yang “mengharukan” saat “wahabi” dan “Islam Nusantara”, misalnya, seolah sehati satu suara kontra-aksi dengan sajian kata-kata yang bisa membuat kuping panas. Padahal, biasanya mereka berdua itu kan …? Kan? Atau, misalnya karena dukungan politik, pentolan JIL pendukung salah satu calon katanya tumben-tumbenan tidak seramai sahabatnya yang sedang mendukung calon (terdemo) dalam mengomentari aksi damai yang berbau-bau “doktrinasi agama” daripada liberalisme.

Eh, tapi kalau liberalisme nih ya … mestinya pengusungnya ribut dong saat upaya aksi-damai ini mendapat beberapa hambatan seperti misalnya sarana transportasi yang sempat mengalami pelarangan, fatwa tentang sholat di jalan yang tiba-tiba dimintakan, dll. dsb. yang sebenarnya intinya aksi 212 seharusnya tidak perlu terjadi. Tapi alhamdulillah, para ulama saya rasakan memang komunikatif, tujuannya baik, dan umat Islam ini adalah WNI yang baik jadi upaya kesepakatan dengan aparat yang berwenang menjadi sesuatu yang penting. Keberpihakan politik bisa mengesampingkan idealisme liberalisasi? 

Baiklah, akhirnya saya mengantongi ijin untuk ikut aksi damai 212 dari suami yang kebetulan sedang berada di Nigeria -jadi tidak bisa makmum padanya-. Biasanya, suami tidak akan kasih ijin saya untuk keluar rumah meninggalkan anak-anak dalam situasi yang luar biasa seperti ini yang tidak bisa ia prediksikan. Namun karena kebetulan ibu saya sedang berkunjung, maka saya bisa menitipkan mereka dengan dibantu si Teteh. Lagipula, ini momen yang baik. Suami pun memberi ijin setelah memberi pesan VVIP :D 

  • Hati-hati. Kalau mau jalan sebaiknya berkelompok, jangan sendirian. (nggak terlaksana)
  • Lihat situasi. Jika ke stasiun situasi ramai sekali, pertimbangkan kembali untuk ikut aksi. (ramai ... sih)
  • Pulang aksi juga jangan tungggu selesai karena akan terjadi arus yang sangat padat. (siaaap!)

Asyiiik! Saya bisa aktif berjalan, bukan hanya duduk dengan pikiran teriritasi membaca berita.

Saya berangkat sendirian dengan tas ransel dan sepatu kets. Aduh, saya jadi keinget jaman jadi mahasiswa belasan tahun lalu. Saya pun memutuskan untuk naik kereta menuju Juanda dari stasiun Depok. Jam tujuh pagi saya meninggalkan rumah sekalian mengantar anak-anak ke sekolah setelah menitipkan si bungsu pada mama. 

Di dalam kereta, saya kegencet saking padatnya. Ngga ada bedanya dengan kereta ekonomi jaman dulu pas jam sibuk saya pernah naik. Dan saya menyesal tidak memilih gerbong khusus wanita. Saya merasa tidak nyaman bepergian tanpa suami saat seperti ini. Pikiran saya juga jadi ke mana-mana: merasa bersyukur jadi stay at home mommy karena tidak harus pulang-pergi naik kereta untuk bekerja. Capek berdiri, berdesakan dengan laki-laki, dan macem-macemlah. Makanya kalau tidak penting dan cocok banget jamnya saya juga menghindari bepergian acara blogger. Nah, jadi ke mana-mana kan ceritanya XD

Sempat ada isu bahwa kereta tidak akan berhenti di stasiun Juanda yang ke Monas aja tinggal jalan sebentar. Tapi, saya pikir logikanya gimana? Ngga berhenti di Juanda apa efektifnya karena Gondangdia juga masih deket. Diturunkan di manapun –walau mungkin merasa jengkel- tidak akan bisa menghalangi arus orang untuk datang ke Silang Monas, kan? Dan, benar saja, meskipun banyak yang turun di Gondangdia –entah karena sengaja atau karena khawatir isu- kereta tetap berhenti di Juanda di mana saya merencanakan turun.

Akhirnya …,
Hai, Juanda! Saya datang sendirian ^^

Tiba sekitar 09.30 WIB, suasana di stasiun sudah seperti saat saya turun dari pesawat saat berhaji dan berada di ruang kedatangan. Penuh manusia berpakaian putih. Arus manusia itu berjalan dengan bersholawat secara kelompok.

aksi super damai 212
Padat sekali arus manusia yang turun dari Commuter. 
Mereka bersholawat secara berkelompok dan yang lain menyelaraskan.

Petugas terus mengatur arus manusia yang berjalan keluar peron untuk menuju Monas dan saya termasuk salah satunya. Saat berhaji pun petugas sibuk mengatur tamu Allah. "Harrak! Harrak!" (Taharrak: Bergerak! Bergerak!) "Kasih jalan! Kasih jalan! Ayo jangan berhenti!"


aksi super damai 212
Ayo antri! Baris! Baris!
aksi super damai 212
Mobil dan bus-bus parkir di jalanan yang steril.

Wow! Sepanjang saya memandang, Jakarta putih sekali. Di sepanjang jalan saya melihat banyak pedagang yang menjual makanan berat maupun ringan yang sepertinya juga sudah sangat menyiapkan diri. Beberapa ruas jalan memang ditutup dan sepertinya dialihkan sehingga kawasan yang saya tapaki sepanjang stasiun Juanda-Monas ini kelihatan steril dari aktifitas sehari-hari. Beberapa pejalan kaki terlihat hanya berjalan dengan kelompok kecil atau malah satu keluarga saja.


aksi super damai 212

 Suka deh berjalan di belakang mereka. Sepasang suami istri dan seorang anak ini sesekali bercanda.
Tampak happy dan bersemangat ^_^


Mendekati Monas rupanya jalanan sudah penuh. Saya sudah tidak bisa masuk lagi. Saya berjalan ke sana ke mari melihat suasana dan mencoba mengambil gambar dengan kamera hape dan tablet seadanya yang sayangnya sebagian fotonya macet dan hilang gambarnya. 

aksi super damai 212
Rumah sakit Sari Asih, Tangerang, bagi-bagi air minum gratis.
 

Sekitar pukul 10 orang-orang bersiap membuat shaf-shaf sholat. Mereka meminta para pedagang yang mangkal di sekitaran pagar luar Monas untuk menepi di tempat lain. Sesekali terdengar sorakan bully saat ada peserta aksi yang berusaha untuk masuk Monas dengan meloncati pagar. Saya berjalan lagi mencari rombongan perempuan. Alhamdulillah tak jauh dari Pertamina dan sedikit di belakang jembatan rel kereta yang melintang di atas, orang-orang sudah membuat pemisah shaf wanita dengan marka jalan. Saya pun duduk bergabung. Sesekali melintas helikopter dan juga kereta yang masih penuh memuat peserta aksi. Dari titik saya duduk, orasi, doa, atau apapun yang diucapkan para pemimpin di Monas tidaklah terdengar. Hanya sesekali terdengar rambatan suara takbir atau shalawat dan orang-orang di sekitarpun turut menyambar. 

aksi super damai 212
Shaf wanita di dalam marka merah yang diatur sebagai pemisah dengan jama'ah pria.

aksi super damai 212
 Saya duduk di baris kedua ^_^

aksi super damai 212
Mengobrol dengan sesama :D Si Kakak ramah ini berangkat bersama rombongan keluarga.

Selama menunggu waktu sholat, gerimis mulai datang. Para tamu Silang Monas tidak terpengaruh. Beberapa hanya berkata pelan, "Gerimis." Lalu beberapa saat kembali terik. Saya sempat merasa kepanasan. Namun kembali gerimis. Kali ini serius. Sebab gerimis itu menjadi hujan. Ibu-ibu yang membawa payung mulai mengeluarkannya. Saya yang termasuk tidak membawa payung bertahan dalam hujan bersama yang lainnya. Suara Takbir dan Tauhid serentak bergema menyambut hujan. Nampak semua sangat siap dan ikhlas. Dalam guyuran air hujan, suasana  menjadi demikian syahdu.

Sayang sekali, suara imam di depan sana nyaris tidak terdengar walaupun sayup. Kadang angin mengantarkan gelombang suara yang samar. Hanya rambatan takbir dan sholawat yang sepertinya bergerak satu komando karena suaranya menyambar searah. Bayangkan kartu domino yang dijajar rapi memanjang dan Anda merubuhkan ujungnya. Hujan terus mengguyur dan adzan pun berkumandang lantang terdengar. Setelahnya, para tamu Monas melakukan sholat sunnah dan diam.

aksi super damai 212
Bocah-bocah lucu di belakangku ini sangat menikmati mandi air hujan ^_^
 

Kami semua basah kuyub. Tapi tidak ada suara keluhan. Semua duduk dengan tenang. Saya pun menangkap siyarat sholat hendak dimulai. Tiba-tiba seorang pemuda takbir di atas atap bus yang diparkir tak jauh dari belakang saya. Orang-orang di sekitar saya sempat mengira akan ada provokasi. Mereka segera berteriak menyuruhnya turun dan beberapa bergerak melihat apa yang terjadi. Ternyata, pemuda itu sedang mewakili jamaah di belakang bus yang mungkin tidak bisa melihat apa-apa agar mereka bisa mengikuti gerakan sholat. Kadang masalah persepsi ya. Yang berteriak dan khawatir menyuruh turun itu sudah melakukan tugasnya untuk menjaga jamaah dari kemungkinan adanya provokator. Dan pemuda yang hendak menjadi perpanjangan pandangan bagi jamaah yang terhalang juga bertahan melakukan niatnya yang baik. Kebaikan yang dipahami, tentu akan mendatangkan pengertian.

Akhirnya waktu sholat tiba. Semua jamaah bergerak sholat. Dan di rakaat kedua, imam membacakan doa qunut yang sangat panjang. Sangat panjang. Sayang saya tidak bisa dengar sama sekali. Dan akhirnya, sholat pun selesai. Saya ingin mengupload foto atau status di medsos saya tapi sejak saya sampai ke Silang Monas, saya mengalami kesulitan koneksi dengan dua kartu yang saya bawa. Kadang bisa update status tapi lama sekali. 

Orang-orang sudah mulai membersihkan sampah dan saya pun turut bergegas mengambil alas sholat saya yang saya beli seharga 2.000 rupiah berbahan plastik. Saya ingin sekali menemui Kafilah Ciamis. Saya pun berjalan ke dalam lapangan Monas namun sayang lautan manusia terlalu padat. Akan sangat membutuhkan waktu untuk mencarinya sedangkan saya harus segera pulang sesuai pesan suami.

Saya pun berbalik arah menuju stasiun Juanda, berjalan basah kuyup. Hujan pun mulai reda. Saat hendak menyebrang jalan, di bawah fly over kereta, ternyata arus jamaah sangat padat, searah menuju Monas. Mereka bersholawat serentak, bergema, dan satu suara bersambungann seolah kau pun tidak bisa memutus lantunannya. Saya bingung hendak menyeberang.

Ada momen yang berbeda yang saya alami. Sewaktu haji, jika saya harus memotong gelombang manusia yang berjalan searah, saya tidak akan berani. Suasana sudah kayak jalan dari Muzdalifah ke Mina. Tapi, saya harus nyeberangi lautan manusia kalau mau ke stasiun Juanda. Pas haji, rombongan saking mungkin juga penuh kekhawatiran dan merasa harus survive di dalam budaya yang berbeda-beda selalu tidak membuat jarak atau celah sedikitpun. Takut tercerai berai atau apalah karena bahasanya berbeda-beda sehingga outsider akan susah menembus arus. Tadi saya juga agak ragu mau nyeberang. Eh tapi ternyata baru melangkah, sudah banyak yang dengan lembut inisiatif, "Kasih jalan, kasih jalan." Saya pun dengan sukses menyeberangi arus manusia yang tengah bershalawat, sendirian saja bergabung kembali dengan arus lain menuju stasiun Juanda.

MasyaAllah suasananya terkontrol. Meskipun saya melihat banyak arus, tapi tidak ruwet. Hanya saja karena hujan, bekas sholat seperti koran-koran agak susah dibersihkan. Beberapa sudah hancur sekali susah dipungutin. Saya terus berjalan dan agak merasa kurang nyaman saat sekumpulan pemuda peserta aksi yang berjalan di belakang saya sepertinya agak bandel. Mereka terlihat ingin berkomunikasi dengan saya dan berusaha menyapa saya dengan sebutan "kakak" dan mengobrol dengan bahasa yang menarik perhatian. Terkadang mereka berujar, "Kasih jalanlah buat kakak ini." Karena saya merasa sudah tua, saya cuma tersenyum dan berlalu. Kemudian saya bertemu nenek yang mengajak mengobrol. Nenek itu datang dari Bekasi hanya bersama dengan salah satu saudaranya. Nenek ingin hadir tapi ditinggal anak-anaknya makanya ia pergi sendiri. Saya hanya tersenyum terhibur.
aksi super damai 212
Jembatan penyeberangan ke arah stasiun Juanda pun padat merayap. Tapi lancar dan teratur. 
Semua mengantri dan tidak berebut meskipun antriannya tidak lurus benar. Sesekali terdengar suara "Ayo maju! Jangan berhenti!" saat langkah stuck.

aksi super damai 212
Pasangan muda ini berjalan di depan saya. Suaminya nampak sayang sekali dan melindungi.
Sesekali istrinya berjalan agak  miring dan hampir menyenggol orang. Dia dengan sigap langsung menarik tubuh istrinya. Suka deh lihatnya!

aksi super damai 212
Stasiun pun benar-benar penuh dengan tamu Silang Monas. Padahal sebagian besar masih berada di lokasi.

aksi super damai 212
Saya sempat mengobrol dengan ibu dari Sukabumi yang ramah ini. Ibu itu datang langsung dari Sukabumi bersama suami dan anak-anaknya saja. Jamaah pengajian di Sukabumi yang ibu itu ikuti tidak mengijinkan wanita ikut jadi dia berangkat bersama keluarganya.

aksi super damai 212
 Ada beberapa foto yang saya ambil dan ingin berbagi sayangnya kok hilang ya xixixixixi

Saya pun bergegas untuk mengantri masuk peron kereta (CL). Petugas stasiun sibuk menertibkan para peserta aksi. Sebenernya mereka itu sudah mengantri dan berbaris, hanya saja memang barisannya itu bercabang banyak ke belakang. Maklum saja mereka tentu tidak terbiasa sehari-hari mengantri rapi scan kartu CL secara otomatis. Petugas wanita dan pria dengan tegas (buat saya terkesan galak) menyuruh semua berbaris rapi sesuai jalur. "Bapak masuk barisan! Itu masuk barisan!" Ini pun mengingatkan saya pada peristiwa haji. Di mana yang datang ke rumah Allah adalah orang dengan berbagai budaya dan bahasa. Dan petugas haji yang berbangsa Saudi itu seringkali dianggap galak dan semena-mena. Mungkin bagi petugas apa saja, kalau manusianya banyak begitu memang harus tegas ya? Padahal kadang bukannya bermaksud tidak tertib, tapi kadang mereka tidak paham maksudnya.

Akhirnya, saatnya saya menunggu kereta deh! Nggak lama sudah muncul. Alhamdulillah dapat tempat duduk. Dan setelahnya full. Beberapa mengobrol saling mengeluhkan jaringan internet dari smartphone mereka yang tidak lancar. Seorang bapak mengeluh karena dia harus memeriksa email-email yang berkaitan dengan pekerjaan kantor. Saya segera menelpon rumah mengingatkan Teteh untuk tidak lupa memesan ojek untuk menjemput anak-anak ulang sekolah. 

Saya menyempatkan diri membuka-buka berita dan saya membaca bahwa Presiden Jokowi dan Wapres Yusuf Kalla berkenan hadir dan sholat bersama. Alhamdulillah. Beberapa orang di kereta saling tanya berapa kira-kira jumlah kami di Silang Monas. "Empat jutaan ya?" "Pokoknya lebih banyak dari yang kemarin." Saya tiba-tiba ingat dengan beberapa opini di media massa yang memperkirakan bahwa peserta aksi super damai ini ini tidak akan sebanyak 4 November lalu. Hai, apa kabar mereka? Saya sendiri tidak tahu pasti berapa jumlahnya.

Kereta pun sampai di Depok. Saya bergegas turun dan segera mengambil sepeda motor di parkiran. Tak lupa saya membeli nasi lauk masakan padang sebelum memacu motor untuk segera pulang. Aduh, ternyata angin dari hasil berkendara begitu menusuk menembus baju saya yang basah semua. Dingin sekali. Padahal tadi di gerbong ber-AC pun tidak terasa dingin. Saya pun menggigil dan semakin ngebut supaya bisa sampai rumah. Sudah kebayang aja pijatan anak-anak xixixixixixi

Semoga Negara Kesatuan Republik Indonesia selalu damai ya. Sungguh sangat disayangkan jika negeri yang indah ini mengalami kegelisahan dan kesemrawutan. Saya selalu terbayang saat saya tinggal di luar negeri. Saat berdiri untuk upacara bendera dan ikut mengumandangkan Indonesia Raya, hati rasanya luar biasa haru. Betapa saya mencintai tanah tempat saya dilahirkan. Betapa saya menyukai bangsa saya sendiri dan ingin hidup berdampingan dengan bangsa lain dengan damai.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pengikut

Supporting KEB

Supporting KEB
Kumpulan Emak Blogger

Histats

Histats.com © 2005-2014 Privacy Policy - Terms Of Use - Check/do opt-out - Powered By Histats